Tips Menangani Si Kecil ketika Sedang Tantrum

Dulu waktu sering baca-baca artikel tentang anak trantrum aku selalu berfikir, "Ah beruntungnya aku punya anak yang ga pernah tantrum, ga kayak anak-anak lain"


Pasalnya, kakak Maryam tergolong anak yang super anteng. Anteng dan sangat penurut. Dia juga sangat jarang nangis ketika masih bayi. Sampai-sampai ketika usianya baru 7 hari dan saat itu adalah jadwal ku untuk control ke dokter anak pasca melahirkan, sempat menanyakan ke dokter,

"Dok anak saya itu kok jarang sekali nangis apa kira-kira anak saya normal ya?"
Lalu dokter menjawab, "Ya gak papa Bu. Bagus dong kalo jarang nangis artinya si anak udah nyaman, semua kebutuhannya terpenuhi."

Serius. Maryam bayi dulu itu sangat anteng ga rewel  (makasih ya kak), jarang nangis saat bayi, sampai-sampai ketika habis lahiran tetangga sebelah rumah ga tau kalo saya habis lahiran mungkin karena rumah sepi-sepi aja ga ada suara tangsan bayi. duh :D

Kak maryam versi bayi itu kalo laper minta nen dia hanya 'eh eh....' ketika aku segera datang dia pun langsung diam dan kembali tenang.. Masya Allah kakak Maryamku....

Seiring bertambahnya usia, perkembangan emosinya pun terlihat. Usia 3 tahunan dia mulai kritis. Ummi suka itu nak. 

Kemudian setelah anakku masuk usia 3,5 tahun dia mulai menunjukkan tantrumnya.

Kaya gimana sih tantrumnya Maryam?

Ketika dia lelah atau bosan atau keinginannya tidak terpenuhi maka emosinya memuncak, menangis dan teriak sekenceng mungkin, kadang sambil menarik-narik tangan ummi tapi Alhamdulillah tidak sampai memikul atau membanting barang-barang di sekitar.


Lalu bagaimana aku mengatasinya?


Hmmm... awal-awal melihat tingkah anak kek gitu, tentu saja aku pun sempat terpancing.


Ketika anak nangis teriak, aku ikutan menimpali dengan semprotan nasihat-nasihat yang terkadang mendekati amarah karena terpancing emosi. Semakin kesini aku jadi semakin tahu, oh ternyata caraku salah.

Gimana seharusnya?

Sekarang kalo Maryam mulai tantrum, nangis keras dan emosinya meluap-luap karena ada keinginan nya yang tidak kami penuhi ataupun menangis tanpa sebab yang jelas yang aku lakukan adalah;

Pertama aku harus mendiamkan dia membiarkan dia menangis sambil tetap mengawasinya. Biarkan dia menangis tidak perlu dilarang karena ketika anak menangis sejatinya dia sedang meluapkan emosinya. Ga usah dulu dihujani dengan nasihat-nasihat karena pasti akan mental. Udah tungguin aja sampe dia capek dan badai emosinya mulai menurun. Kalo kita ngomel terus yang ada emak jadi ikut tantrum. Jangan ya mak 😁

Kedua, saat anak mulai menunjukkan emosinya yang mulai turun (ciri-cirinya adalah nangis nya udah ga sekenceng sebelumnya) maka dekati anak dan tunjukkan perhatian kita. Misal dengan memegang tangan, mengelus, mencium, atau memeluk kalo anaknya mau, intinya berikan sentuhan.
Selanjutnya bilang gini, "kakak tadi sedih ya? Gara-gara ga boleh main keluar? rasanya kesel banget ya di sini?(sambil nunjuk ke dada)"

Kalimat ini, kalo kata para ahli itu adalah sebuah validasi perasaan. Jadi kita menunjukkan kalo kita tau apa yang mereka rasakan dan mereka merasa di terima. Kalimat tadi juga bisa membantu dia mengidentifikasi perasaan apa yang sedang dia alami.


Ketiga. Kemudian selanjutnya  kalo aku biasanya bercerita apa pun yang dia sukai atau merencanakan suatu aktivitas yang ia sukai.


Pada tahap ini anak mulai teralihkan.


Misal aku bilang gini,

"Tau ga kak , dulu waktu ummi masih kecil juga sama kaya kakak, ga boleh main keluar ketika sudah adzan maghrib, karena kata Rasulullah pada saat sendekala seperti ini para jin dan setan sedang pada berkeliaran mau nyari tempat tinggal buat tidur mereka di malam hari. Nah kakak kira-kira mau ga setan ikut masuk kerumah kita?"

"Enggak dong mi" jawabnya misal


"Nah itulah mengapa di saat-saat seperti ini menjelang manghrib kita harus segera masuk rumah, lalu tutup pintu dan jendela sambil baca bismillah ya. Nanti kita bisa main diluar lagi selain waktu sendekala yah"


Nah itu sekedar contoh topik pembicaraan.


Sejauh ini anak-anak ku kalau diceritain cerita yang seru dan menarik dia akan teralihkan asalkan ya syarat pertama harus terpenuhi, berikan ruang untuknya meluapkan perasaannya.


Keempat, nasihati dia pelan-pelan untuk tidak mengulanginya lagi.
Nah kalo udah main lagi dan si anak udah kembali ceria boleh lah kita kasih nasihati. Kalo aku biasanya bilang,  "Kak, kakak boleh kok kalo lagi marah dan kecewa kakak nangis, tapi nangisnya jangan lama-lama ya, sebentar aja. Kalo udah nangis udah lega ya udah cari mainan atau aktivitas lain yang menyenangkan ya."



Dengan nasihat dan pengertian tadi, si anak lama-lama akan paham bahwa yang dilakukannya tadi (nangis gegulingan  jejeritan dengan segenap emosi) tidak disukai orang tuanya. Maka insya Allah dia berudaha pelan-pelan mengurangi kebiasaannya.



Segitu aja sih Bun sharing dari saya. Silakan temen-temen yang punya tips lain bisa share di kolom komentar :)

Comments

Popular posts from this blog

Tips Mengatasi Subling Rivalry (Sharing Pengalaman)

THE BROKEN KITE (Indonesian-English Translation)

Menempel Bunga Di Kertas Puzzle Membentuk Pola